Rumah Desa Balinese Home & Cooking Studio

Bali memang bisa menjadi tujuan liburan dengan mengunjungi keindahan alamnya yang selalu menjadi favorit bagi siapapun. Namun, di balik semua itu, apakah kalian tidak tertarik dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali?

Rumah Desa Balinese Home & Cooking Studio menawarkan pengalaman untuk bisa melihat secara langsung kehidupan masyarakat Bali. Tidak hanya sekedar melihat, namun, kita juga berkesempatan untuk menginap sekaligus berinteraksi, dan merasakan secara langsung kegiatan sehari-hari mereka.

Gue kali dapat kesempatan bersama tim Bali Prawara untuk mengunjungi Rumah Desa Balinese Home & Cooking Studio. Ketika memasuki gerbang area ini, kita akan diajak untuk tur mengelilingi rumah adat masyarakat Bali yang dihuni oleh keluarga besar yang terdiri dari lebih dari 3 kepala keluarga dengan ciri khasnya yaitu, terdiri dari Bale Dangin yang posisi selalu di timur. Ruangan ini dibangun dengan konsep terbuka yang ditutup atap dan kelambu saja yang diisi dengan 2 tempat tidur, tempat tidur yang satu berfungsi sebagai tempat tidur yang digunakan oleh keluarga tertua, sedangkan di tempat tidur sebelahnya diisi dengan peralatan upacara (Dari proses kelahiran, remaja, pernikahan, sampai dengan kematian salah satu anggota keluarga). Untuk bangunan yang bernama Bale Daje merupakan rumah tinggal yang dihuni oleh keluarga lainnya. Sedangkan tidak jauh dari Bale Daje dan Dangin terdapat sanggah atau pura keluarga yang dimana semua keluarga dapat menggunakannya untuk sembahyang. Sedangkan di selatan dibangun sebuah dapur yang juga dapat digunakan oleh semua keluarga. Halaman kosong selalu menjadi ciri khas rumah adat Bali di tengah rumah-rumah kecil yang mengelilinginya, khusus untuk di daerah Baturiti ini karena areanya agraris, sehingga dibangun sebuah rumah jineng/ lumbung untuk menyimpan beras hasil panen. Rumah jineng ini dibangun bertingkat, untuk penyimpanan beras sendiri terdapat di bagian atas, sedangkan di bagian bawah dapat digunakan sebagai bale bengong atau ruang tamu untuk menyambut kehadiran tamu maupun tempat untuk berkumpulnya keluarga untuk bercengkrama.

Selama berada di rumah adat Bali ini, kita akan melihat secara langsung aktivitas sehari-hari penghuninya yang alami. Seperti seorang kakek yang tengah duduk santai di bale bengong sambil mengawasi ayam-ayam peliharaan, sedangkan seorang nenek tengah menghaluskan boreh/ param kocok/ lulur dengan bahan-bahan tradisional seperti beras, cengkeh, jahe, lengkuas, dan kunyit dengan menggunakan ulekan. Fungsi dari boreh tersebut adalah untuk menghilangkan pusing dengan cara dioleskan di dahi dan di belakang telinga bawah. Sedangkan untuk menghilangkan capai, maka bahan yang sudah dihaluskan tersebut dapat dioleskan di kedua betis. Konsep rumah adat Bali yang terbuka adalah, karena kelembapan cukup tinggi dan juga berada di ring of fire, sehingga jika terjadi gempa akibat erupsi gunung berapi, maka penduduk akan dengan mudah untuk menyelamatkan diri keluar dari rumah.    

Setelah mengenal filosofi rumah adat Bali beserta dengan aktivitas penduduknya sehari-hari, maka tempat wisata yang berlokasi di Baturiti, Tabanan, Bali ini juga memperkenalkan penulisan aksara Bali yang ditulis atau lebih tepatnya diukir di atas daun lontar. Namun, sebelum melihat proses penulisan aksara Bali, para pengunjung akan disuguhi dengan welcome drink yang terbuat dari teh bunga rosella yang dicampur dengan rempah-rempah khas Bali. Rasanya cukup segar dan sedikit masam karena memang dari bunga rosella itu sendiri yang mempunyai cita rasa masam. Tapi dipastikan minuman tersebut dapat menghilangkan dahaga setelah berkeliling melihat rumah adat Bali.

Rumah Adat Bali yang digunakan untuk nulis Aksara Bali di Rumah Desa

Kembali ke proses penulisan aksara Bali di daun lontar. Di sini langsung didemonstrasikan oleh pemilik Rumah Desa Balinese Home & Cooking Studio yaitu Pak Wayan Sudiantara. Proses penulisannya sendiri menggunakan sebuah pisau kecil yang digoreskan di atas daun lontar. Sedangkan untuk menebalkan tulisan, penduduk setempat menggunakan kemiri bakar sehingga tulisan terbaca lebih jelas. Dan tidak lupa, di sini juga kita akan diberikan oleh-oleh berupa ukiran nama kita di daun lontar yang ditambah dengan uang kepeng sebagai liontin sehingga bisa dijadikan sebuah kalung yang dapat kita kenakan setelahnya.

Ini dia nama gue yang diukir di daun lontar menggunakan aksara Bali

Masih di area yang sama, kita akan merasakan kehangatan penduduk setempat dengan hidangan yang disajikan ala rijsttafel  sebelum melanjutkan tur di area yang memiliki lahan seluas 40 are tersebut. Hidangan yang disajikan secara rijsttafel tersebut terdiri dari nasi dengan beberapa kondimen seperti babi kecap, tum ayam, sate ayam, bakwan jagung, terong basa genap, plecing daun gingseng, ayam sambal bejeg, dan ayam betutu yang dipastikan dapat membuat kita (khususnys gue) ketagihan atau meminta resepnya untuk dimasak kembali di rumah. Namun, jangan khawatir! Karena ternyata mereka juga menyediakan kelas memasak yang dapat dilakukan dengan pemesanan terlebih dahulu. 

“Kami juga memiliki cara tersendiri untuk mencegah virus-virus yang akan menyerang kekebalan imun tubuh. Dengan menggunakan cara tradisional yang dipercaya secara turun temurun. Adapun cara yang dimaksud adalah dengan menggunakan Asepan atau kalau yang modern adalah dupa. Sedangkan Asepan yang kami gunakan adalah jauh sebelum ditemukannya dupa. Dan bahan-bahan yang digunakan antara lain tembakau, batang kayu putih, bunga kemenyan, dupa dengan aroma sesuai selera yang kesemuanya dibakar dan asapnya itulah yang kami percaya sebagai disinfektan alami. Ini merupakan salah satu kearifan lokal yang harus kami pertahankan. Selain sebagai disinfekatan alami, asepan ini juga dapat digunakan untuk upacara namun bahan-bahan yang dibakar akan berbeda.” Ungkap Pak Wayan Sudiantara, Pemilik Rumah Desa Balinese Home & Cooking Studio.  

Selain itu, paket petualangan juga disediakan oleh tempat wisata yang dibuka untuk umum dari tahun 2009 tersebut. Seperti bersepeda berkeliling desa, mengenal sistem irigasi sawah yang masih dijalankan secara tradisional, menanam padi, trekking di persawahan, dan belajar membuat minyak kelapa.

Pembuatan minyak kelapa sendiri yang dilakukan oleh penduduk asli Rumah Desa Balinese Home & Cooking Studio ini membutuhkan sekitar 5 buah kelapa untuk 660 ml. Prosesnya berawal dari pengupasan kelapa yang dilakukan secara tradisional menggunakan batang kelapa yang telah ditajamkan dan ditancapkan di batang kelapa yang lebih besar sehingga berdiri tegak dan siap untuk mengupas kelapa yang dibutuhkan. Kemudian diambil dagingnya, diparut, dan dicampur dengan air matang kemudian diperas di atas wadah yang telah disiapkan. Kemudian didiamkan selama 24 jam di suhu ruangan. Proses ini akan membuat minyak dan air terpisah. Ketika air dan minyak sudah terpisah, maka bisa disaring untuk diambil minyaknya saja yang dapat digunakan untuk memasak. Kegiatan pembuatan minyak kelapa ini biasanya dilakukan oleh para orang tua yang sudah pensiun sebagai pengganti aktivitas sehari-hari.

Trekking di persawahan juga salah satu kegiatan menyenangkan lainnya yang ditawarkan oleh Rumah Desa ini. Dan di jalur trekking sendiri, kita akan dengan mudah menemui pohon kopi. Menurut Pak I Made Mendra Astawa selaku Ketua Forum Komunikasi Desa Wisata Provinsi Bali, beliau menjelaskan “Pohon kopi yang ada di sini adalah jenis Robusta yang dibudidayakan oleh masyarakat setempat. Di mana biji-biji kopi ini merupakan favorit bagi binatang luwak yang otomatis menjadi bahan makanan mereka dan kotoran dari binatang luwak ini yang akan diproses menjadi kopi luwak dan kemudian dipasarkan.”

Yoga pertama gue :D

Tempat wisata yang dapat ditempuh selama satu jam perjalanan dari Denpasar ini juga menyediakan kelas yoga dan meditasi. Selain itu, jika kalian ingin menyelenggarakan pesta pernikahan dengan adat Bali, ulang tahun, gathering, dan acara luar ruangan yang lainnya maka Rumah Desa Balinese Home & Cooking Studio juga dapat menjadi pilihan.

 

0 komentar: