Gunung Agung dari Puncak Gunung Sanghyang (2.074 MDPL)

November 2020 - Berangkat dari Denpasar boncengan sama temen gue mengarah ke Bedugul. Jam 7.30 pagi kita bener-bener meluncur dari tempat janjian ga pake molor-moloran macam karet yang melar kalo diminyakin.

Sekitar sejam perjalanan, pas di daerah Baturiti, sesuatu yang ga diinginkan terjadi, iya ban belakang motor kita pecah, jadinya harus ke bengkel dulu ganti ban dalam. Sekitar 20 menitan nunggu sampe kelar dan kita lanjut perjalanan ke Wanagiri-Tamblingan dan berakhir di Munduk. Bukan tujuan utama sih, di sini kita janjian sama pemandu plus temen-temen lain yang mau gabung untuk muncak.

Sekitar hampir jam 11 siang kita berangkat menuju ke pos untuk memulai pendakian. Nah! jalur pendakian ini infonya adalah jalur baru. Gue aja baru mau muncak untuk yang pertama kalinya ke Gunung Sanghyang, eh, udah dibilangin bakal mendaki di jalur yang baru, yang lama aja belum tau gue hehehe.

Nah, singkat cerita, jadi jalur untuk mendaki gunung tertinggi ke-5 di Bali ini adalah hanya ada satu jalur saja yang dimulai dari Kayu Pundak Pura Bebaktian, sedangkan jalur yang akan gue laluin adalah bener-bener jalur yang emang belum banyak dikenal sama pendaki yang lain. Jalur PHTT itu namanya. Sebenernya belum resmi nama jalur yang baru ini, kenapa kita namakan PHTT? karena dari hasil obrolan sama pemandu dan temen-temen pendaki lain yang semuanya asli dari warga Desa Gesing. Ini adalah desa di bawah kaki Gunung Sanghyang yang pemuda-pemudinya menamakan organisasinya Pemuda Harapan Taru Tenget dan yang disingkat menjadi PHTT. Dan dislangkan menjadi Pemuda Harapan Tak Tentu hehehe. Ceritanya karena banyak pemuda pemudi di sana yang masih nganggur dalam usia dewasa, jadinya menjadi beban orang tua gitu deh. Semoga mereka bisa menemukan aktifitas yang membantu keluarga dan tidak menjadi beban lagi.

Namun, perlu diketahui, di wilayah ini, penduduknya mayoritas menjadi petani cengkeh dan wortel. Sedangkan sisanya yang tidak memiliki lahan pertanian sendiri, maka otomatis akan menjadi buruh tani di sana.

Oke, balik lagi ke jalur pendakian. Jalur yang kita pake ini adalah jalur untuk motor cross sebenernya yang berlokasi di Desa Gesing, Banjar, Bali. Nah, setelah kita parkir motor, maka pendakianpun dimulai dengan melewati perkebunan wortel yang juga dilewati oleh motor cross kalau memang sirkuit tengah berlangsung. Tapi, bukan melewati sepanjang jalur motor cross, setelah itu baru deh pemandu kita buka jalan dengan menebang ilalang pake sabit yang dibawa demi untuk kita semua. Dari awal mulai aja jalan udah mendaki ga pake koma hahaha ditambah dengan hasil membuka jalan oleh pemandu kita yang cukup bikin goresan di lengan kanan dan kiri karena semak belukar dan duri-durinya hahaha. Iya, karena gue pake lengan pendek jadi gue ga bisa komplen saat itu, tapi gue menikmati kok hehehe.

Ini dia awal tanda untuk menuju pos pertama pendakian

Info di awal jarak tempuh sampai puncak sekitar 2 jam, memang lebih cepat karena dimulai dari ketinggian yang pasti lebih tinggi dibandingkan dengan jalur the one and only itu. Meskipun jalurnya terus nanjak dan beberapa dari kita (hampir semua) kena lintah termasuk pemandu kita yang lintahnya sampe jumbo karena udah menghisap darah terlalu lama, tapi kita jalan termasuk cepet lho, karena dalam waktu sejam mendaki udah sampe di tengah gunung. Jadi prediksi 2 jam akan tergenapi, tapiiii ternyata di tengah jalan hujan lebat, jadi memaksa kita untuk berhenti dan pake jas hujan dan jalan lebih hati-hati karena selain nanjak juga beberapa jalan yang kita lewati licin.

Dari pos pertama aja udah begini nanjaknya hahaha

Dan ini jalur hasil dibabat sama pemandu kita. Sepanjang mendaki mayoritas begini medannya 

Lintah jumbo yang ngisep darah pemandu kita, yaaks!



Untungnya hujan ga bertahan lama, jadi kita lebih bisa menambah kecepatan dalam pendakian. Meskipun selalu disamperin sama kabut tapi ga mematahkan semangat untuk mencapai puncak. Dan, lelah selama pendakian serta darah yang dihisap lintah selama mendaki pun terbayar karena ga lama setelah itu kita sampai di area perkemahan. Iya, karena emang rencana kita adalah untuk kemping semalam, jadi kita berhenti di area itu. Jadi total perjalanan yang dimulai dari jam 11.25 dan tiba di area kemping jam 13.48. Setelah istirahat dan mendirikan tenda, gue ke puncak bareng sama temen-temen Hindu yang akan sembahyang di pura kecil puncak. Dari area kemping menuju puncak dibutuhkan sekitar 10 menit aja kok.

Ga jauh dari puncak, hujan bikin kita melambat mendaki

Nyampe juga gue di puncak gunung tertinggi ke-5 ini hehehe

Di jalan menuju ke puncak gue lihat ada patung dan pura yang dalam pengerjaan. Gue dan temen-temen Hindu yang lain ga ada yang bisa jawab gue itu patung apa yang sedang dibangun. Anyway, gue lanjut jalan sampai puncak untuk bener-bener merasakan puncak sesungguhnya dari gunung tertinggi ke-5 di Bali ini. Kabut begitu mendominasi baik di area kemping maupun di puncaknya. Tapi ga menutup kecantikan alam yang dianggap suci oleh umat Hindu di Bali ini.

Pura yang masih proses dibangun menuju ke puncak Gunung Sanghyang

Patung yang juga masih proses deket dengan pura yang proses juga

Setelah balik ke area kemping, kegiatan dilanjutkan dengan makan-makan dan ngobrol seru bersama pemandu dan pendaki lain yang emang gue belum pernah kenal sebelumnya. Dari makan mie instan sampe makan nasi dan lontong plus sayur pakis yang langsung dipetik oleh mereka ketika mendaki (karena memang sepanjang pendakian pepohonan didominasi oleh pohon pakis yang memang bisa dimakan).

Makan malam bareng hikers asli penduduk warga kaki Gunung Sanghyang dan pemandu :)


Dilanjutkan istirahat yang gue ga bisa tidur lelap sampe alarm bunyi kalo gue tidur di kamar gue sendiri. Mungkin karena gue telalu excited seperti biasanya kalo mau ngapai-ngapain, jadinya gue kebangun jam 4.30 dan nunggu sampe jam 5 untuk ngumpulin nyawa dan lanjut muncak untuk hunting sunrise dan pemandangan lainnya yang gue denger sebelumnya itu.

And, yipppiii! ini dia pemandangan yang gue dapat:

Matahari terbit dari Puncak Gunung Sanghyang dengan ketinggian 2.074 mdpl

Depan gue banget itu Guung Lesung, kiri gue Danau Tamblingan, kanan gue belakang Gunung lesung itu Danau Buyan. Pemandangan ini di utara puncak Gunung Snghyang.

Puncak Gunung Agung dari Puncak Gunung Sanghyang. Ini di sebelah timur Puncak Gunung Sanghyang.

Gunung Batukaru di selatan Puncak Gunung Sanghyang.

Setelah itu turun ke area kemping dan sarapan. Lanjut bongkar tenda dan turun deh. Turun gunung dari jam 7.59 melewati jalur yang beda dengan ketika kita mendaki. Iya, jalur yang kita lewati untuk turun adalah jalur yang biasa dipake untuk mendaki oleh pendaki yang lain, yaitu jalur satu-satunya yang ada selama ini. Cukup bagus, jadi gue punya konten yang beda dibandingin dengan vloger maupun blogger yang lain. Karena naik dan turun gue lewatin jalur yang berbeda hehehe. Thanks to pemandu gue yang namanya Bli Dedi.

Salah satu jalur ekstrim baik naik maupun turun dari pos Pura Bebaktian

Jalurnya ga seektrim ketika mendaki. Ekstrimnya hanya dua spot sebelum nyampe di puncak aja yang naik maupun turun harus pake tali. Sedangkan selebihnya jalurnya landai. Sampai di pos Kayu Pandak Pura Bebaktian jam 9.25. Jadi total perjalanan turun sejam setengah.

Ini dia pos awal yang ditandain dengan Kayu Pandak Pura Bebaktian dari jalur pada umumnya

Yes, akhirnya 2 gunung udah gue taklukin selama di Bali. Darat, laut, dan gunung. Lengkap sudah ngebolang gue di Pulau Dewata ini.      


Si Bolang hehe

Ini gue sama anak-anak PHTT

Yang cowok itu pemandu kita, namanya Bli Dedi :)

Gunung Sanghyang pas di belakang gue. Foto setelah turun dari sana

                          Video nya juga tersedia ya di sini. Yang belum subscribe sila di klik tombolnya. Yang sudah subscribe terima kasih banyak! :) 





Next
This is the most recent post.
Posting Lama

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Ada no wa guide disana

chris mengatakan...

i like your blog. do you have a gpx from the new way to gn.Sanghyang. i am curious where it starts . coordinates?
my webpage: mountains-of-bali.orgfree.com
best regards
chris